Ketika aku sedang
memikirkan ujian akhirku nanti, tiba-tiba bis pun mendadak berhenti. Berhenti
tepat di depan Bank Sentral. Semua penumpang berteriak dan ketakutan ketika bis
itu rem mendadak. Aku pun terjatuh dari tempat dudukku. Setelah bis benar-benar
berhenti, aku terus bertanya-tanya dipikiranku, apa yang sebenarnya terjadi di
depan sehingga supir bis itu menginjak rem tiba-tiba. Kemudian aku bangun dan
melihat keadaan sekitar. Semua penumpang juga tidak luput terjatuh sama
sepertiku. Liontin yang aku kalungkan di leherku tiba-tiba bercahaya redup
dengan sendirinya. Disamping aku bingung dengan keadaan yang terjadi di
sekelilingku, aku juga dibuat bingung dengan liontin yang aku pakai kenapa
tiba-tiba bisa bercahaya seperti ini.
Sampai akhinya ada suara tembakan yang melintas di pendengaranku.
Ternyata ada seorang
yang memakai topeng hitam, badannya agak besar dan memegang senjata di tangan
kanannya.
“Diam semua, jangan ada
yang bergerak sedikitpun!! Kalau tidak akan aku tembak kepala supir ini!!” seseorang
itu berteriak dengan lantang sambil menodongkan senjatanya ke arah kepala supir
bis itu.
Kejadian ini semakin
kacau ketika teman dari seseorang yang misterius itu naik dari pintu belakang
bis yang juga memegang senjata digenggamannya. Ketakutan dan kegelisahan serta
kecemasan saja yang hanya aku rasakan. Aku mengira mereka berdua itu ingin
menyandra kami agar bisa menyelamatkan diri jika ada polisi-polisi yang
mengepungnya.